Oleh
- Radhitya Yudhi 5210100065
- Andreas Giovani 5210100068
Proyek TI
Smaller Information system project adalah proyek kecil yang bergerak di
bidang system informasi dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama dan sumber
daya yang tidak banyak juga. Contoh seperti pembuatan software untuk
administrasi Tata Usaha Jurusan.
Hambatan-Hambatan dalam proyek TI :
1. Estimasi yang terburu-buru
Dalam pengerjaan sebuah proyek pasti ada
kapan proyek tersebut di kerjakan dan kapan proyek tersebut selesai. Kadang
permintaan pelanggan yang terlalu cepat (Jangka waktu) membuat pengerjaan
proyek menjadi terburu-buru, sehingga proyek tersebut bisa saja mengalami
kegagalan. Disini lah peran manajer proyek sangat di butuhkan, untuk mengatur
dan bertanaya kepada pelanggan tentang masukan proyek tersebut.
2. Rencana yang tidak matang
Proyek membutuhkan sebuah rencana-rencana
matang agar proyek tersebut berjalan dengan baik, seperti sumber daya apa saja
yang dibutuhkan, kapan proyek harus selesai, berapa biaya yang diperlukan, dan
siapa pengguna akhir proyek tersebut. Sebuah proyek tanpa perencanaan yang
matang jelas akan menghabiskan banyak waktu, biaya, dan talenta tanpa
menghasilkan sesuatu yang bermutu.
3. Kurang tepatnya pembagian kerja antara
anggota tim
sumber daya yang ada dalam proyek tersebut
harus dikelolah dengan benar agar proyek tersebut berjalan lancar.
4. Kurangnya kemampuan untuk mengukur kemajuan
proyek
Hampir semua proyek yang telah berhasil
melibatkan manajer proyek yang telah berpengalaman. Manajer proyek mengukur
kemajuan proyek tersebut dari tahap awal sampai akhir seperti
kebutuhan-kebutuhan apa saja yang di butuhkan pengguna tersebut.
Studi kasus Sistem Informasi
Perpustakaan
Suatu hari ada seorang mahasiswa,
sebutlah namanya CR, di salah satu perpustakaan kampus di daerah Surabaya
Tenggara. CR ingin meminjam salah satu buku. Akhirnya ia memilih buku “Ratapan
Anak Tiri”. Tidak jelas alasannya memilih buku tersebut, apakah karena
pengalaman pribadinya atau karena ia ingin seperi di judul itu. Setelah
memegang buku tersebut, CR membawanya ke meja kasir. Oleh kasir dicatatlah
judul, nomor, dan tanggal peminjaman serta pengembalian buku tersebut.
Selang beberapa hari, si kasir
merasakan sesuatu yang janggal dalam perpustakaan tersebut. Bukan karena
makhluk halus ataupun tampang mahasiswa yang kurang enak dipandang. Melainkan
ia takut, jika catatan yang selama ini digunakan untuk merecord segala macam
aktivitas dalam perpustakaan itu raib. Kasir pun cemas sehingga membuat heboh
seisi perpustakaan. Termasuk Rektor Kampus tersebut. Namun ada satu jurusan
yang tidak terlihat panik. Malah jurusan itu tersenyum sinis ketika mendapat kabar
kepanikan seisi perpustakaan. Jurusan itu adalah Sistem Informasi. Mereka
merasa, ini saatnya mereka “makan” karena dalam hal pembuatan database, jurusan
ini bisa dikatakan sebagai “mbahnya”. Setiap hari jurusan ini diberi perbekalan
tentang database dan memanajemen sistem informasi tersebut. Akhirnya Jurusan
Sistem Informasi membuat suatu sistem yang berisi tentang data buku yang
terdapat dalam perpustakaan kampus yang terdiri dari jumlah buku, tanggal
peminjaman, tanggal pengembalian, siapa yang meminjam, dan berapa denda yang
dikenakan pada mahasiswa apabila
terlambat untuk mengembalikan buku.
Sistemnya dinamakan Sistem Informasi
Perpustakaan yang memiliki tujuan agar peminjam dapat mencari buku secara
cepat. Bahkan karyawan dapat memanajemen peminjaman dan pengembalian buku.
Setelah dibuatkan sistem tersebut, seisi perpustakaan bahkan kampus dan
rektornya merasakan euforia yang luar biasa. Kasir pun mengganti namanya dengan
admin karena ia merasa sudah bisa menjalankan suatu sistem dalam computer.
Manajemen Studi Kasus
Beberapa hal yang dijabarkan dari
proses Sistem Informasi Perpustakaan sebagai berikut:
- Pembuatan user dan pengaturan oleh admin
- Pembuatan database buku yang terdiri dari judul dan nomor buku, serta pernah dipinjam pada tanggal berapa
- Pembuatan ketentuan denda berdasarkan keterlambatan hari dalam pengembalian buku serta tebal buku
Agar sistem informasi perpustakaan
berjalan dengan baik, maka dibutuhkan sistem manajemen yang baik. Pada
prinsipnya manajemen dibagi menjadi Perencanaan, Pengorganisasian, Penyusunan
Karyawan, Koordinasi , Laporan, dan Anggaran.
1. Perencanaan, sebelum sistem itu
dibuat, manajemen perpustakaan harus sudah membuat tujuan, strategi, kebijakan,
prosedur dan dana yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan
2. Pengorganisasian, manajemen
perpustakaan mengelompokkan aktifitas ke dalam beberapa unit atau bagian,
sehingga antar bagian dapat melakukan koordinasi yang baik dan juga memiliki
wewenang untuk melakukan tugasnya
3. Penyusunan Karyawan, manajemen dapat
menentukan penempatan karyawan di posisi yang sesuai dengan kemampuannya, misal
penempatan pada bagian admin server, admin computer, penanggung jawab dan
pengawas sistem yang biasanya dilakukan oleh pembuat sistem. Agar dapat
memberikan layanan yang baik, diperlukan karyawan yang baik dari jumlah dan
kemampuan yang mereka miliki.
4. Koordinasi, terdapat kerjasama yang
baik antar karyawan untuk menunjang pekerjaan
5. Laporan, Manajemen harus mengetahui
kejadian atau hal apa saja yang sudah, sedang ataupun yang akan berlangsung
karen itu laporan diperlukan
6. Anggaran, Biaya untuk sistem yang
diawasai oleh pengawas sistem
Sumber :
- www.scribd.com/doc/53716947
Tidak ada komentar:
Posting Komentar